jeudi 5 novembre 2009

Words are not enough

Aku selalu bertanya kepada diriku dan teman-teman sekitarku. Bagaimana caranya agar persiapan mental dalam menghadapi hal yang sebetulnya sudah merupakan niat dari hati yang paling dalam menjadi lebih matang. Aku sudah yakin akan keputusanku, apapun yang terjadi akan kulakukan niatku. Namun tak sedikit yang bertanya, apa gunanya tindakanku ini dimana dari sudut pandang mereka, bahwa hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah namun justru akan membuat diriku semakin bingung.

Aku selalu yakin bahwa tindakan yang akan kulakukan ini bisa membuat hatiku lega. Sehingga aku bisa menutup halaman ini, dan membuka sebuah chapter baru dalam hidupku. Namun pertanyaan dan penjelasan teman-temanku membuat aku menjadi tidak yakin akan keputusanku

Aku ingin bergerak ke depan, aku tidak ingin hidupku statis. Empat tahun dalam hidupku, sudah kugunakan untuk hal yang sampai sekarangpun aku tidak melihat manfaatnya. Memang 2 hal ini adalah 2 permasalahan yang beda, namun sangat erat hubungannya dengan masa laluku yang penuh dengan penyesalan. Terlalu sering aku berpikir, tanpa menyadari bahwa waktu terus berjalan dan kehidupan pun terus bergulir. Iya, aku harus bergerak, meskipun pelan tetapi aku harus mengambil langkah pertama untuk maju.

Nenek pernah bilang.
"Sometimes words are not enough to show that you remember, respect or love someone..."


Teringat akan kalimat tersebut, aku kembali mengumpulkan rasa percaya diriku. Hari demi hari aku mencoba meyakinkan diriku, bahwa hal yang kulakukan adalah yang terbaik untuk memberitahukan sebenarnya apa yang terjadi di dalam hati ini yang sedang bergelut resah. Seuntai kalimat tidak akan cukup, aku harus bisa memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kalimat yang dapat mensimbolisasikan semua ucapan yang ingin diutarakan.

Berpikir dalam keraguan, akhirnya teman-temanku memberi bantuan moral. Mereka tahu aku ingin mengakhiri semua ini, meskipun dalam hati yang paling dalam masih terbesit cahaya kecil. Namun hal ini harus berhasilkan dikeluarkan agar perasaan gundah ini bisa hilang. Aku sangat berhutang budi kepada teman-temanku.

Malam sebelum tertidur, tatapan mataku terasa hampa. Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Aku tidak sedih, namun tentu tidak bisa ketawa. Yang kulakukan hanyalah merebahkan diri di tempat tidur sambil menatap cahaya lampu kamar. Perasaan seperti berputar-putar, perasaan ingin menangis, namun aku tahu tidak ada gunanya. Aku sudah tahu bahwa hal ini akan sakit, namun ternyata, "it's more painful than i had anticipated."

mardi 29 septembre 2009

Globalizations

Questions : What is the truest definition of Globalization?

Answer : Princess Diana's Death.

Explanation :
An English Princess with an Egyption boyfriend crashes in French tunnel driving a German car with a Dutch engine, driven by Belgian who was drunk on Scottish whisky, followed closely by Italian Paparazzi, on Japanese motorcycles, treated by an Amereican doctor, using Brazilian medicines.

samedi 19 septembre 2009

Bagaikan Kurva

Aku rasa semua manusia mempunyai tingkat emosi yang berbeda-beda. Dimana ada kalahnya tanpa segan-segan ia akan menunjukkan senyuman yang paling tulus ke seseorang. Bahkan sebaliknya, ia tidak akan segan-segan menunjukkan sisi jeleknya di depan seseorang. Namun hal ini yang selalu kupertanyakan ke diriku dan beberapa teman-temanku. Apa gunanya sih semua itu??

Aku selalu memegang suatu prinsip dimana orang lain tidak perlu tahu permasalahan yang sebenarnya kita hadapi sehari-hari. Aku selalu bersyukur ketika masalah selalu bermunculan, karena dengan adanya masalah disitulah ada proses pembelajaran. Pembelajaran tentu akan membuat diri kita semakin lebih baik dan semakin terbuka agar dapat berpikir dan melihat dari sisi orang lain. Hal itu memang tidak gampang untuk dilakukan, karena pada dasarnya semua orang akan mempertahankan pendapat masing-masing atau pendapat yang mereka dekat.

Namun akhir-akhir ini, perisaiku mulai melemah tidak sekuat dulu. Perasaanku bagaikan kurva yang naik turun. Tanpa alasan yang jelas dan penyebab yang realistis, diriku yang beberapa menit lalu sedang tertawa terbahak-terbahak dan ramai berdiskusi dan bertukar pikiran, tiba-tiba menjadi diam dan emosiku berubah menjadi tidak baik. Dimana pada keadaanku seperti ini, aku selalu mencoba melawan dengan terus tersenyum dan berbicara agar orang tidak perlu tahu keadaanku sebenarnya.

Kenapa? kenapa tanpa alasan yang jelas, kurva emosiku yang sedang naik (baca : senang) tanpa alasan yang logi, kurva emosi tersebut menjadi turun (baca : bad mood) Namun kembali lagi aku bertanya, apakah semua yang terjadi itu memerlukan suatu alasan yang logis? kurasa tidak.